19.6.09

Legitimasi Rakyat Dalam Acara Debat Capres oleh KPU


KPU melangsungkan gelaran acara Debat Capres 2009 secara serentak ditayangkan di beberapa televisi baik swasta maupun negeri. Suatu hal yang kiranya dapat dianggap suatu standarisasi sosialisasi politik yang dilakukan oleh para calon pemimpin bangsa melalui KPU. Dalam acara diberikan kesempatan bagi para calon-calon Presiden untuk dapat menyampaikan visi, misi serta program yang dirancang dan harus diimplementasikan ketika calon-calon tersebut mendapatkan legitimasi dari masyarakat untuk memimpin negara ini. Segala cara dengan bersandarkan kepada norma-norma serta aturan berlaku dapat dilakukan oleh para Capres untuk dapat meraih simpati masyarakat. Namun kembali bahwa harus ditekankan pemimpin, dalam hal ini seorang presiden, harus mampu secara tulus hati melaksanakan kewajiban dan tanggung jawabnya untuk memimpin dan membimbing negara menuju perbaikan selama 5 tahun ke depan.

Sedikit menyinggung acara Debat Capres 2009 oleh KPU, dapat disimpulkan secara umum oleh penulis sebagai suatu ajang membangun image yang dilakukan oleh para Capres, namun dalam hal ini penulis memiliki penilaian yang cenderung negatif terhadap para Capres yang tampil. Adapun beberapa penilaian dari penulis secara umum kepada ketiga Capres yang hadir adalah sebagai berikut:

1. Dalam kemampuan berkomunikasi, para Capres yang hadir dirasakan kurang mampu untuk menyampaikan program atau argumentasinya kepada khalayak. Berkomunikasi adalah suatu hal yang sangat vital yang harus dikuasai oleh Presiden sebagai orang nomor satu di negara Indonesia (atau kebanyakan negara pada umumnya). Dapat kiranya kita melihat bagaimana gaya berkomunikasi yang dilakukan oleh Megawati dan Jusuf Kalla masih memiliki kekurangan. Penyampaian akan visi dan misi, serta argumen ketika diberi pertanyaan menjadi suatu hal yang absurd ketika tertuang dalam kata-kata yang diucapkan oleh mereka. Sementara SBY memiliki nilai yang cukup baik, setidaknya penulis dalam hal ini cukup mengerti dan memahami pemikiran SBY dari statement yang dibuat.

2. Pengusulan program dirasakan sangat kurang dari pihak SBY, namun baik dari pihak Jusuf Kalla dan Megawati. Dalam hal ini, penulis merasakan bahwa program-program yang ditawarkan oleh SBY adalah hanya berupa perlanjutan atas program-program yang sudah ada, namun sangat kurang jika melihat penciptaan program kemasyarakatan yang baru. Di sisi lain, pihak Megawati dapat dikatakan baik ketika muncul dengan "ekonomi kerakyatan", dapat kiranya dianggap suatu pembaharuan dan tidak hanya terus menerus menekankan kepedulian terhadap "wong cilik". Menempati urutan atas, dapat kiranya penulis memberikan suatu penilaian yang baik kepada program yang ditawarkan oleh Jusuf Kalla, yang selalu berbicara mengenai kemandirian bangsa, serta percepatan demi kebaikan. Namun kiranya dari ketiga Capres tersebut, dapat dinilai bahwa ketiganya hanya menawarkan program-program yang tidak terlalu real dan cenderung utopis.

3. Pencitraan diri, pada ketiga Capres yang hadir, memiliki nilai yang SANGAT baik. Penilaian baik tersebut bukan berarti suatu hal yang positif, dapat kiranya kita melihatnya sebagai suatu hal yang cenderung kepada arah negatif. Para Capres terkesan lebih berhati-hati dalam berbicara, seolah kurang memiliki ketegasan untuk dapat mengatakan kejujuran mengenai beberapa hal-hal buruk seperti kasus lumpur lapindo dan pengelolaan ALUTSISTA. Para Capres yang hadir nampak hanya berkata-kata dan berucap hal-hal "yang ingin didengar" namun bukan suatu hal "yang benar". Sekiranya terkait ALUTSISTA, dapat dikatakan bahwa memang anggaran belanja negara untuk pemeliharaan ALUTSISTA memang jauh dibawah rata-rata persentase penggunaan APBN standar di beberapa negara lain.

Ketiga hal tersebut hanya menjadi beberapa hal yang dapat menjadi landasan penilaian penulis terhadap ketiga Capres yang hadir dalam acara Debat Capres 2009. Tanpa bermaksud melakukan tindakan offensif terhadap ketiganya, tapi dapat kiranya kritik tersebut menjadi suatu hal yang dapat dipandang dari suatu sudut pandang positif demi perbaikan diri. Ingat, bahwa masyarakat Indonesia saat ini lebih "pintar", "kritis" dan juga "apatis" terhadap politik dan elit. Jangan anggap bahwa masyarakat tidak memiliki suatu penilaian tersendiri, jangan anggap bahwa pernyataan Capres atau strategi politik yang dirancang oleh Tim Sukses dapat selalu mampu membuat suatu opini publik yang dapat mendongkrak dukungan terhadap Capres tertentu. Ingat bahwa penilaian masyarakat yang cenderung negatif memiliki pengertian berkurangnya legitimasi masyarakat terhadap pemimpin bangsa. Semakin banyak penilaian negatif terhadap seorang Capres, maka semakin sedikit legitimasi yang dimiliki oleh Capres tersebut.

Dalam hal ini, penulis mencoba untuk bersikap NETRAL, bahwa penilaian tersebut walaupun memang kiranya ada beberapa Capres yang mendapat penilaian lebih positif (bila pembaca berfikir demikian) namun berlaku bagi ketiga Capres yang hadir dalam acara Debat Capres 2009.

Semoga Indonesia, dan masyarakat Indonesia dapat lebih bersabar untuk menunggu seorang tokoh yang benar-benar memiliki kelebihan, kebaikan, dan pemikiran hebat serta benar-benar memiliki niat luhur untuk memperbaiki bangsa dan mengesampingkan kepentingan pribadi serta sekedar pencitraan diri yang baik belaka.

Cari Blog Ini

Memuat...